a3
Featured, Instagram, Lainnya

Instagram Merilis Fitur Pencegah Bunuh Diri

0 52

Indonesia-facebook.com – Tidak sedikit kasus bunuh diri yang terindikasi dari unggahan pengguna media sosial (medsos). Sebut saja Instagram.

Mengingat Instagram merupakan platform berbagi foto dan video, pengguna justru lebih ‘bebas’ mengekspresikan rasa kesedihan dan depresinya melalui foto atau video yang mereka unggah.

Untuk mengantisipasi hal tersebut tak ‘menyebar’ ke pengguna lain, jejaring sosial milik Facebook tersebut akhirnya memutuskan merilis fitur pencegah bunuh diri.

Instagram Merilis Fitur Pencegah Bunuh Diri

Cara kerja fitur ini juga sangat mudah. Sebagaimana telah dimuat di laman Engadget, Jumat (21/10/2016), pengguna hanya perlu melaporkan postingan yang berbau tindakan bunuh diri. Setelah itu, pihak Instagram akan segera menindaklanjuti akun yang bersangkutan.

“Kami paham bahwa teman-teman dan keluarga ingin menawarkan dukungan kepada mereka (pihak yang ingin bunuh diri) namun seringkali tidak tahu bagaimana caranya,” kata COO Instagram Marne Levine.

Kehadiran fitur terbaru ini, lanjut Levine, diharapkan dapat membuat pengguna yang hendak bunuh diri, sadar bahwa mereka tidaklah sendiri.

“Fitur ini dirancang untuk membuatmu tahu bahwa kamu tidaklah sendiri, kamu dikelilingi teman-teman, keluarga, komunitas yang peduli denganmu,” sambungnya.

Instagram juga bekerjasama dengan beberapa psikolog dan pakar kesehatan mental untuk menangani pengguna yang ‘bermasalah’ dengan hidupnya.

Tujuannya adalah agar pengguna tidak memikirkan hal-hal yang berbau dengan bunuh diri dan menjadikan Instagram sebagai alat yang positif untuk saling berbagi.

a1

a2

Penggunaan medsos sebenarnya dinilai dapat memicu depresi. Alih-alih mencurahkan isi hati, efek dari medsos sendiri sudah bergerak ke arah kompetisi untuk memenangkan suatu popularitas.

Mark Widdowson, salah seorang pengamat psikologi remaja yang juga turut mengambil bagian dalam sebuah studi mengatakan, kompetisi tersebut muncul dari peer pressure pengguna lain yang ada di media sosial.

“Konten yang dimuat bisa berupa foto atau video yang memperlihatkan kehingarbingaran pesta, gaya hidup, kuliner atau membahas isu sensitif. Disaat pengguna media sosial melihatnya, sentimen yang didapat bisa negatif. Hal tersebut disebabkan karena pengguna tidak dalam taraf yang sama dengan konten yang dimuat,” tuturnya.

Widdowson yang juga merupakan dosen di University of Salford ini menerapkan bahwa pengguna media sosial seharusnya merefleksikan diri bahwa ‘alat’ yang mereka gunakan bukanlah cerminan yang harus mereka tiru.

“Media sosial merupakan sebuah opsi yang hanya memiliki nilai untuk berkomunikasi dengan teman terdekat Anda. Itu saja kuncinya. Jangan dilebih-lebihkan,” tutupnya.

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *